RSS

ORANG NORMAL VS ORANG CACAT

Melihat acara talkshow hari ini di salah satu stasiun televisi membuat saya bingung akan satu hal. Dengan bintang tamu 2 orang artis dengan seseorang bapak yang cacat (tidak punya kaki) perbincangan pun mulai terasa haru untuk saya. Sang bapak ini mengaku alasan pertama ia memulai usahanya karena melihat mereka para gelandangan yang kebanyakan adalah orang-orang normal. Mungkin sedikit aneh kedengarannya, secara mereka yang normal malah tidak ada mau usaha untuk berhasil sedangkan si bapak yang cacat ini ada rasa “ingin berhasil”. Mungkin inilah bukti kalau Tuhan itu adil. Dengan kekurangannya si bapak memulai usahanya dalam bidang jualan kerupuk. Dan akhirnya usahanya itu berhasil dan ia sukses memperluas daerah pemasaran dari kerupuk itu. Dan dia juga mempunyai niat untuk merekrut orang-orang cacat untuk bekerja dengannya. Anda sebagai orang normal coba pikirkan, pernahkah anda berpikir untuk melakukan hal yang sama dengan si bapak tersebut ? Mungkin pernah, tapi itu hanya menjadi niat yang hanya tersimpan dalam kotak impian, karena anda hanya berkhayal tanpa ada usaha untuk mewujudkannya, seperti yang dilakukan si bapak penjual kerupuk itu.

 

Saya mulai berpikir akan satu hal, mengapa kebanyakan orang cacat yang menjadi motivator untuk orang normal dibandingkan orang normal yang menjadi motivator untuk orang cacat ? Padalah jelas, orang normal mempunyai kelebihan yang jelas dibandingkan orang cacat kan. Mungkin inilah perbedaan yang jelas antara orang cacat dan orang normal, yaitu “orang cacat selalu memotivasi dirinya untuk bisa menjadi seperti orang normal, sedangkan orang normal tidak pernah ada pikiran untuk menjadi orang cacat”. Setujukah anda dengan pernyataan saya ?

 

Sudah banyak saya melihat orang yang mempunyai kekurangan malah menjadikan kekurangannya itu sebagai kelebihannya. Orang cakep jadi terkenal itu biasa, tapi orang jelek bisa jadi terkenal itu luar biasa kan ? Dan banyak contoh disekitar saya, kebanyakan dari mereka yang memiliki wajah kurang menarik malah lebih terkenal karena kecerdasannya atau kemampuannya dibandingkan orang yang menarik tapi tidak bisa menggali potensi dalam dirinya.

 

Mungkin untuk anda yang cacat atatu mempunyai kekurangan, jangan kamu menjadi rendah diri karena kekuranganmu itu, tapi buktikan bahwa dirimu  tidak pantas untuk dikasihani tapi lebih pantas untuk dicontoh dan dibanggakan. Kekurangan kita bukan untuk mencari belas kasihan orang, tapi Tuhan memberi kita kekurangan biar kita bisa menjadi orang yang lebih kuat dan lebih mau berusaha untuk menjadi lebih baik. Dan untuk kalian yang sudah diberi kelebihan berupa fisik normal, jangan pernah menganggap mereka yang mempunya kekurangan lebih lemah dari anda, karena sesungguhnya mereka itu lebih kuat karena bisa menjalani hidupnya tanpa suatu hal yang mereka tidak punya sedangkan anda punya. Tapi teruslah gali potensi dalam diri anda, jangan kerena anda sudah diberi kelebihan anda menjadi lupa diri dan terlena akan semua itu. Karena hidup ini mewajibkan kita untuk  terus melangkah maju, bukan hanya stuck disitu saja. Akan lebih baik bila kesempurnaan anda menjadi lebih indah bila ditambah dengan hal hal baru yang bersifat positif kan. Contohnya, mungkin orang akan berkata kepada anda nanti “aduh mbakyu, udah cantik pintar juga lagi”. Bagaimana perasaan anda, pasti bangga kan diberi dua buah pujian sekaligus ?

 

Saya tidak ada bermaksud membanding bandingkan mereka yang cacat dengan mereka yang normal, tapi saya hanya berniat untuk membuka pikiran anda lebih luas dan memberi motivasi kepada kita semua untuk lebih baik lagi. “Karena kekurangan kita adalah kelebihan dari Tuhan yang tidak semua orang punya”, kalimat ini yang selalu memotifasi saya untuk tidak menjadi orang cupu hanya karena saya cacat. (^^)

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2012 in Coret - Coretan

 

Tags: , , , , , , ,

Flowchart

Flowchart merupakan bagan yang menunjukkan alur dan hubungan antar proses. Flowchart ini berbentuk simbol-simbol yang mewakili suatu proses dan garis yang mewakili alurnya. Flowchart ini biasa digunakan untuk langkah awal sebelum membuat suatu program. Gunanya adalah agar kita bisa lebih jelas mengerti urutan proses dari program yang akan dibuat. Setelah flowchart selesai dibuat, maka seorang programmer akan menerjemahkan alur proses tersebut dalam suatu listing program.

 

Jenis- Jenis Flowchart

Ada beberapa jenis flowchart diantaranya:
1.  Bagan alir sistem (systems flowchart).
2.  Bagan alir dokumen (document flowchart).
3.  Bagan alir skematik (schematic flowchart).
4.  Bagan alir program (program flowchart).
5.  Bagan alir proses (process flowchart).

 

Simbol-Simbol Flowchart

Berikut saya akan memberikan beberapa simbol flowchart yang biasa digunakan.

1. Terminator

 

Merupakan simbol untuk permulaan atau akhir suatu program.

 

2. Flow Line / Garis Alir

 

Merupakan simbol untuk arah aliran program.

 

3. Preparation

 

Merupakan simbol untuk proses inisialisasi atau pemberian nilai awal.

 

4. Proses

 

Merupakan simbol proses atau pengolahan suatu data.

 

5. Input / Output

 

Merupakan simbol yang menyatakan input atau output data, parameter, atau informasi tanpa tergantung pada jenis peralatannya.

 

6. Decison

 

Merupakan simbol untuk kondisi yang mempunyai beberapa kemungkinan jawaban atau aksi, yang merupakan pernyataan untuk penyeleksian kondisi yang akan memberikan pilihan untuk langkah proses selanjutnya.

 

7. On Page Connector

 

Merupakan simbol penghubung pada suatu bagian flowchart yang berada pada suatu halaman yang sama.

 

8. Off Page Connector

 

Merupakan simbol untuk menghubungakan bagian flowchart yang berada pada halaman yang berbeda.

 

9. Manual Operation

 

Merupakan simbol yang menunjukkan pengolahan yang tidak di proses oleh komputer.

 

9. Offline Storage

 

Simbol yang menunjukkan bahwa data di dalam symbol ini akan disimpan.

 

10. Keying Operation

 

Merupakan simbol untuk proses dengan menggunakan emsin yang mempunyai keyboard.

 

11. Magnetic Tape Unit

 

Merupakan simbol bahwa input berasal dari pita magnetic atau output akan disimpan pada pita magnetic.

 

12. Punched Card

 

Merupakan simbol bahwa input berasal dari kartu atau output akan disimpan pada kartu.

 

13. Disk And Online Storage

 

Merupakan simbol yang menyatakan input berasal dari disk atau akan disimpak ke disk.

 

14. Display

 

Merupakan simbol yang menyatakan peralatan output yang digunakan yaitu layar, plotter, printer, dan sebagainya.

 

15. Dokumen

 

Merupakam simbol yang menyatakan input berasal dari dokumen dalam bentuk kertas atau output dicetak ke kertas.

 

Tags: , , , , ,

Rangkaian Light Detector Robot

Analisa Rangkaian

Untuk mengaktifkan rangkaian Light Detector Robot ini dibutuhkan 2 sumber tegangan yang besarnya berbeda, yaitu 5 volt untuk mengaktifkan rangkaian, dan 12 volt untuk mempercepat rotasi motor dc pada outputnya. Sumber tegangan bisa berasal dari baterai ataupun adaptor. Namun, pada rangkaian ini sudah ditambahkan IC 7805 yang merupakan regulator untuk tegangan 5 volt, jadi alat ini hanya menggunakan 1 input saja, yaitu berupa tegangan sebesar 12 volt yang dicabang menjadi 2 bagian, yaitu untuk bagian input IC regulator dan untuk input tegangan 12 volt langsung yang dibutuhkan oleh IC motor driver.

Rangkaian Light Detector Robot

Input untuk rangkaian Light Detector Robot ini berupa cahaya yang masuk ke kepala LDR (Light Dependent Resistance). Cahaya yang masuk diubah menjadi tegangan oleh LDR. Lalu tegangan dari LDR ini masuk ke kaki inverting IC LM324 yang berfungsi sebagai komparator. Tegangan dari LDR kemudian dibandingkan dengan tegangan yang masuk ke kaki noninverting IC LM 324 yang terhubung dengan trimpot yang merupakan resistor variabel yang hambatannya bisa diatur besar kecilnya. Untuk menghitung Vout di IC komparator, bisa menggunakan rumus berikut ini :

Vout = ( Vb – Va ) ± 90% Vcc

Berdasarkan teori dasarnya, hambatan pada LDR pada saat tidak terkena cahaya lebih besar dibandingkan pada saat terkena cahaya. Tegangan maksimal dari LDR pada saat tidak terkena cahaya adalah 1MΩ, dan tegangan minimal LDR saat terkena cahaya adalah 1kΩ. Maka pada saat LDR tidak terkena cahaya, maka tegangan yang masuk ke kaki inverting menjadi besar (sesuai dengan hukum ohm, V = i * R), dan berkebalikan untuk kondisi pada saat LDR terkena cahaya.

Sesuai dengan rumus kompator diatas, jadi pada saat LDR tidak terkena cahaya, tegangan yang masuk ke kaki inverting lebih besar daripada tegangan yang masuk dari kaki noninverting yang hanya diperoleh dari trimpot 50KΩ. Jadi pada saat itu, Vout yang dihasilkan dari IC LM324 sangat kecil, kemungkinan bisa mendekati 0 volt.

Sebaliknya pada kondisi saat LDR terkena cahaya, hambatan pada LDR mengecil, maka tegangan yang masuk ke kaki inverting juga menjadi kecil dibandingkan tegangan yang masuk ke kaki nontinverting IC LM324. Hal ini membuat Vout yang dihasilkan oleh komparator menjadi besar.
Dari penjelasan diatas, bisa dilihat fungsi trimpot disini adalah untuk melakukan perbandingan tegangan untuk mengatur output dari IC LM324 ini. Trimpot yang resistansinya bisa diubah-ubah ini juga berfungsi untuk mengatur kesensitifan LDR sebagai sensor terhadap cahaya pada alat Light Detector Robot.

Untuk mengatur inputan dari bagian sensor yang akan disinkronisasikan dengan outputnya pada bagian motor dc, rangkaian ini membutuhkan mikrokontroler sebagai pengontrolnya. Jenis mikrokontroler yang digunakan pada rangkaian ini adalah AT89S51 yang mempunyai 40 pin, yang 32 pin diantaranya terbagi atas 4 port untuk input dan outputnya. Pada rangkaian Light Detector Robot hanya menggunakan 2 port, yaitu port 2 (P2.0 dan P2.2) sebagai input yang berasal dari bagian sensor, dan port 1 (P1.4, P1.5, P1.6, dan P1.7) sebagai output yang akan disambungkan dengan IC L293d.

Input dari IC LM324 tadi kemudian diteruskan ke mikrokontroler AT89S51 ini. Input tegangan tersebut kemudian diubah menjadi sinyal-sinyal yang bisa dibaca oleh mikrokontroler. Mikrokontroler ini membaca sinyal input dan output dalam bentuk bilangan hexadesimal. Pada rangkaian Light Detector Robot menggunakan 2 buah sensor. Sensor1 dihubungkan ke P2.0 dan Sensor2 dihubungkan ke P2.2.

Pada pin 18 dan 19 di IC ini diberi 1 buah Xtal 12 MHz dan 2 buah kapasitor 33pF. Xtal merupakan komponen penting pada saat kita menggunakan IC mikrokontroler, karena Xtal berfungsi untuk menghasilkan sinyal clock secara kontinyu ke dalam IC AT89S51. Tanpa Xtal, IC mikrokontroler ini tidak dapat berfungsi, karena IC ini selalu membutuhkan sinyal clock sebagai pemicunya. Jadi bisa dikatakan disini bahwa Xtal merupakan jiwa dari mikrokontroler AT89S51. Dan kegunaan dari kapasitor 33pF pada rangkaian ini adalah sebagai penstabil clock.

Pada pin 9 IC AT89S51 yang merupakan pin reset, dipasangkan komponen kapasitor (C4) dan resistor (R4). Tujuannya untuk menyediakan tegangan kembali pada saat IC ini membutuhkan reset.

Setelah inputnya diatur oleh mikrokontroler AT89S51, maka IC ini juga akan mengatur outputnya. Outputnya dikeluarkan dari pin 5, 6, 7, dan 8. Dan keempat pin ini terhubung lagi ke IC L293d yang merupakan IC motor driver. Sinyal-sinyal yang dikeluarkan dari mikrokontroler diubah menjadi tegangan yang akan memutar motor dc. Motor dc akan berputar bila ada perbedaan arus, dari tegangan yang lebih positif ke tegangan yang lebih negatif. Maka arah perputarannya ini akan di atur oleh program assembler yang didownload ke mikrokontroler.

Peletakan arah motor dc kanan berkebalikan dengan motor dc kiri. Arah putarannya akan diatur oleh logika program yang akan didownload ke mikrokontrolernya. Pada logika programnya dimasukkan logika yang berbeda (logika 1 dan 0) pada kedua motor dc agar arusnya bisa mengalir dan menghasilkan arah putaran yang berbeda pada kondisi logika kebalikannya.

Jika kedua sensor tidak terkena cahaya, maka tidak ada tegangan yang bisa mengalir pada kutub-kutub motor dc karena logika yang diberikan dari output kedua sensor ke IC AT89S51 adalah 0. Maka robot tidak bergerak. Jika sensor2 terkena cahaya, maka pada motor dc arus mengalir dari P1.5 yang berlogika 1 ke P1.4 yang berlogika 0 untuk motor dc kiri serta P1.7 yang berlogika 1 ke P1.6 yang berlogika 0 untuk motor dc kanan . Jadi untuk kondisi ini adalah robot bergerak maju. Jika sensor1 terkena cahaya, maka pada motor dc arus mengalir P1.4 yang berlogika 1 ke P1.5 yang berlogika 0 untuk motor dc kiri serta P1.6 yang berlogika 1 ke P1.7 yang berlogika 0 untuk motor dc kanan. Jadi untuk kondisi ini adalah robot bergerak mundur. Jika kedua sensor terkena cahaya, maka tidak ada tegangan yang bisa mengalir pada kutub-kutub motor dc karena logika yang diberikan dari output kedua sensor ke IC AT89S51 adalah 1.

Pada IC L293d yang merupakan driver motor menggunakan 2 buah tegangan, yaitu 5 volt untuk mengaktifkan IC motor drivernya dan 12 volt untuk mempercepat rotasi motor dc. Sebenarnya dengan hanya menggunakan 5 volt, motor dc sudah bisa berputar. Tapi rotasinya lama dan dayanya lemah. Maka dari itu diberi tegangan 12 volt lagi untuk membuat daya putarannya lebih kuat.

Jadi yang dimaksudkan sebagai output dari rangkaian ini adalah perputaran yang dihasilkan dari motor dc.

Listing Program Rangkaian Light Detector Robot

Program ditulis dengan menggunakan program aplikasi MIDE-51 dalam format .asm. Berikut adalah listing program yang di gunakan pada mikrokontroler AT989S51.

org 00h
mov p1, #0ffh
mov p2,#0ffh
start :
mov a,p2
cjne a, #0fah,diam
mov p1, #0ffh
sjmp start
diam :
cjne a, #0ffh,maju
mov p1, #0ffh
sjmp start
maju :
cjne a,
#0feh,mundur
mov p1, #0afh
sjmp start
mundur :
cjne a,#0fbh,start
mov p1, #05fh
sjmp start
end

Cara Pengoperasian Alat

Untuk mengaktifkan rangkaian Light Detector Robot ini membutuhkan 2 buah sumber tengangan yang besarnya masing-masing 5 volt dan 12 volt. Tegangan 5 volt digunakan untuk mengaktifkan rangkaian alat ini, dan tegangan 12 volt digunakan pada IC L293d yang merupakan IC motor driver. Tapi karena pada rangkaian Light Detector Robot ini, penulis juga menambahkan sebuah IC regulator 7805, maka inputan yang digunakan pada alat ini menjadi 12 volt saja.

Pada rangkaian sudah ditarik 2 buah jumper ke IC regulator untuk Vcc dan 1 buah jumper dari groundnya. Kemudian hubungkan Vcc dengan tegangan positif dari adaptor dan hubungkan groundnya dengan tegangan negatif dari adaptor. Selanjutnya, atur bagian trimpot pada kedua sensor agar kepekaan sensor LDR terhadap cahaya bekerja dengan baik.

Langkah pertama, alat ini diuji dengan tidak memberi cahaya pada kedua bagian sensornya, dan output untuk kondisi ini adalah robot tidak bergerak atau diam. Kemudian, penulis menguji robot dengan memberi cahaya pada sensor bagian depan, maka motor dc mulai berputar searah CW dan output dari kondisi ini robot bergerak maju selama masih diberi cahaya, dan robot akan diam setelah LDR ditutup atau kondisi tidak terkena cahaya lagi. Robot ini juga diuji dengan memberi input cahaya pada LDR pada sensor bagian belakang, maka motor dc berputar searah CCW output dari kondisi ini robot bergerak mundur selama masih diberi cahaya, dan robot akan diam setelah pemberian cahaya kepada LDR dihentikan. Setelah itu uji kondisi lainnya, yaitu memberi input cahaya pada LDR pada kedua bagian sensor. Outputnya, kondisi robot ini tidak bergerak, atau diam.

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2012 in Coret - Coretan, Softskill

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Kamera Film

1. Sejarah Kamera
Kamera merupakan alat yang berfungsi dan mampu untuk menangkap dan mengabadikan gambar/image. Kamera pertama kali disebut sebagai camera obscura, yang berasal dari bahasa latin yang berarti ruang gelap. Camera obscura merupakan sebuah alat yang terdiri dari ruang gelap atau kotak, yang dapat memantulkan cahaya melalui penggunaan dua buah lensa konveks, kemudian menempatkan gambar objek eksternal tersebut pada sebuah kertas/film, film tersebut diletakkan pada pusat fokus dari lensa tersebut. Camera obscura yang pertama kalinya ditemukan oleh seorang ilmuwan Muslim yang bernama Alhazen, hal tersebut terdapat seperti yang dijelaskan pada bukunya yang berjudul Books of Optics (1015-1021).

Obscura

Sementara di tahun 1660-an ilmuwan asal Inggris Robert Boyle dan asistennya Robert Hookemenemukan portable camera obscura. Namun kamera pertama yang cukup praktis dan cukup kecil untuk dapat digunakan dalam bidang fotografi ditemukan pertama kali oleh Johann Zahn, penemuan tersebut terjadi pada tahun 1685. Kamera fotografi pada awalnya banyak yang menerapkan prinsip model Zahn, dimana selalu menggunakan slide tambahan yang digunakan untuk memfokuskan objek. Sistem tersebut adalah dengan memberikan tambahan sebuah plat sensitif di depan lensa kamera tersebut setiap sebelum melakukan pengambilan gambar.

Kamera terus berlanjut, Jacques Daguerre merupakan salah satu dari orang-orang yang berperan dalam perkembangan teknologi kamera, dan sekaligus memberikan jasa pada perkembangan dunia fotogarfi kita. Daguerre (begitu ia biasa dipanggil) dilahirkan tahun 1787 di kotaCormeilles di Perancis Utara. pada waktu muda, Jacques Daguerre adalah seorang seniman. Pada umur 30-an Daguerre merancang diograma, yang dimaksud dengan diograma adalah barisan lukisan pemandangan yang mempesona bagusnya, dipertunjukkan dengan bantuan efek cahaya. SementaraDaguerre mengerjakan pekerjaannya tersebut, Daguerre menjadi tertarik dengan pengembangan suatu mekanisme untuk secara otomatis melukiskan kembali pemandangan yang ada di dunia tanpa menggunakan kuas atau cat, yaitu tidak lain adalah KAMERA.

Di tahun 1827 Daguerre bertemu dengan Joseph Nicephore Niepce yang juga sedang mencoba –yang sejauh itu lebih sukses– menciptakan kamera. Dua tahun kemudian mereka bekerjasama. Namun di tahun 1833 Niepce meninggal, akan tetapi Daguerre tetap melanjutkan percobaannya. Menjelang tahun 1837 ia berhasil mengembangkan sebuah sistem praktis fotografi yang disebutnya daguerreotype. Tahun 1839 Daguerre memberitahu publik secara terbuka tanpa mempatenkannya. Pengumuman penemuan Daguerre menimbulkan kegemparan penduduk pada saat itu dan ia menjadi seorang pahlawan yang ditaburi berbagai macam penghormatan serta penghargaan, sementara metode daguerreotype dengan cepat berkembang dan banyak digunakan oleh khalayak. Daguerre sendiri segera pensiun. Dia meninggal tahun 1851 di kota asalnya dekat Paris.

Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan teknologi kamera semakin hari berkembang semakin pesat.Kamera tidak hanya digunakan sekedar untuk menangkap objek yang berfungsi sebagai kenang-kenangan semata, tetapi juga digunakan untuk menangkap objek yang sedang bergerak. Sebut saja perkembangannya kemudian seperti kamera video, kamera mikro, kamera sensor dan lain sebagainya. Perkembangannya pun telah meliputi berbagai bidang, seperti pada bidang sinematografi, pendidikan, kedokteran, dan bahkan sampai pada bidang sistem pertahanan dan keamanan pun tidak terlepas dari penggunaan teknologi.

1.1 Komponen Kamera
Sebuah kamera minimal terdiri atas:
• Kotak yang kedap cahaya (badan kamera)
• Sistem lensa
• Pemantik potret (shutter)
• Film

a. Badan kamera
Badan kamera adalah ruangan yang sama sekali kedap cahaya, namun dihubungkan dengan lensa yang menjadi satu-satunya tempat cahaya masuk. Di dalam bagian ini cahaya yang difokuskan oleh lensa akan diatur agar tepat mengenai dan membakar film.

Kamera

Di dalam kamera untuk tujuan seni fotografi, biasanya ditambahkan beberapa tombol pengatur, antara lain:
• Pengatur ISO/ASA Film.
• Shutter Speed.
• Aperture (Bukaan Diafragma).
Jika diperlukan bisa pula ditambah peralatan:
• Blitz (atau lebih umum disebut lampu kilat atau flash)
• Tripod
• Lightmeter

b. Sistem lensa
Sistem lensa dipasang pada lubang depan kotak, berupa sebuah lensa tunggal yang terbuat dari plastik atau kaca, atau sejumlah lensa yang tersusun dalam suatu silinder logam. Tingkat penghalangan cahaya dinyatakan dengan angka f, atau bukaan relatifnya. Makin rendah angka f ini, makin besar bukaannya atau makin kecil tingkat penghalangannya. Bukaan ini diatur oleh jendela diafragma. Bukaan relatif diatur oleh suatu diafragma. Untuk kamera SLR, lensa dilengkapi dengan pengatur bukaan diafragma yang mengatur banyaknya cahaya yang masuk sesuai keinginan fotografer.

Lensa Kamera

Jenis lensa cepat ataupun lensa lambat ditentukan oleh rentang nilai F yang dapat digunakan. Disamping lensa biasa, dikenal juga lensa sudut lebar (wide lens), lensa sudut kecil (tele lens), dan lensa variabel (variable lens, atau oleh kalangan awam disebut dengan istilah lensa zoom.
Lensa sudut lebar mempunyai jarak fokus yang lebih kecil daripada lensa biasa. Namun sebutan itu bergantung pada lebarnya film yang digunakan. Untuk film 35 milimeter, lensa 35 milimeter akan disebut lensa sudut lebar, sedangkan lensa 135 milimeter akan disebut lensa telefoto. Lensa variabel dapat diubah-ubah jarak fokusnya, dengan mengubah kedudukan relatif unsur-unsur lensa tersebut. Lensa akan memfokuskan cahaya sehingga dihasilkan bayangan sesuai ukuran film. Lensa dikelompokkan sesuai panjang focal length (jarak antara kedua lensa). Focal lenght memengaruhi besar komposisi gambar yang mampu dihasilkan. Dalam masyarakat umum, lebih dikenal dengan istilah zoom.

c. Pemantik Potret
Tombol pemantik potret atau shutter dipasang di belakang lensa atau di antara lensa. Kebanyakan kamera SLR mempunyai mekanisme pengatur waktu untuk memungkinkan mengubah-ubah lama bukaan shutter. Waktu ini ialah singkatnya pemetik potret itu membuka, sehingga memungkinkan berkas cahaya mengenai film.

d. Film
Film adalah alat penangkap gambar yang sifatnya sangat mudah terbakar jika terkena cahaya sedikit saja. Cahaya yang telah dipantulkan oleh lensa akan terjadi reaksi kimia saat terkena film. Hasil dari film adalah bentukan gambar yang berbentuk obyek dari hasil jepretan kamera.

Film Kamera

Bagian lain sebuah kamera, antara lain:
1. Mekanisme memutar film gulungan agar bagian-bagian film itu bergantian dapat disingkapkan pada objek
2. Mekanisme fokus yang dapat mengubah-ubah jarak antara lensa dan film,
3. Pemindai komposisi pemotretan (range finder) yang menunjukkan apa saja yang akan terpotret serta apakah objek utama akan terfokuskan
4. Lightmeter untuk membantu menetapkan kecepatan pemetik potret dan atau besarnya bukaan, agar banyaknya cahaya yang mengenai film cukup tepat sehingga diperoleh bayangan atau gambar yang memuaskan.
Beberapa kamera, terutama jenis kamera poket biasanya tidak memiliki salah satu dari bagian-bagian tersebut.

2. Kamera Film
Jenis kamera film yang digunakan adalah dari jenis 35 milimeter, yang menjadi populer karena keserbagunaan dan kecepatannya saat memotret, karena kamera ini berukuran kecil, kompak dan tidak mencolok. Lensa kadang dapat dipertukarkan, dan kamera itu dapat memuat gulungan film untuk 36 singkapan, bahkan kadang lebih. Pembagian film berdasarkan ukuran :
• Small format (35mm)
• Medium format (100-120mm)
• Large format
Angka di atas berarti ukuran diagonal film yang digunakan. Setiap jenis ukuran film haru menggunakan kamera yang berbeda pula. Pembagian film berdasarkan jenis bahan dan kesensitifannya :
• Film hitam putih
• Film warna
• Film positif
• Film negatif
• Film daylight
• Film tungsten
• Film infra merah (sensitif terhadap panas yang dipantulkan permukaan objek)

2.1 Prinsip Kerja Kamera Film

Prinsip Kerja Kamera

Berikut adalah prinsip cara kerja kamera film :
• Pertama analogikan kita melihat pensil di ujung meja tulis. Cahaya datang dan memantul dari pensil lalu masuk ke badan kamera.
• Cahaya yang masuk ke kamera lalu mengenai lensa optic ( lensa convex / lensa cembung ). Lensa ini yang akan memfokuskan cahaya yang diterima berupa bayangan terbalik kesuatu tempat yang disebut film.
• Proses kimia terjadi saat film terkena cahaya dan membentuk sebuah pola gambar. Hanya bagian film yang terkena cahaya yang akan terbakar dan hangus, sedangkan bagian yang lainnya tetap. Dahulu film dibuat dari lempengan kaca yang bercampur bahan kimia yang langsung merekam cahaya. Perak dan kapur adalah campuran pertama kali yang digunakan untuk membuat lempengan tersebut. Tapi sekarang, film dibuat dari bahan plastik dan dilapisi emulsi garam perak halida supaya peka menangkap cahaya. Film yang digunakan untuk foto hitam putih menggunakan satu lapis senyawa garam perak halida. Sedangkan penggunaan foto berwarna menggunakan minimal 3 lapis.
• Hasil dari penangkapan film adalah sebuah klise / negatif yaitu lembaran hitam. Kemudian film dicetak pada kertas foto. Proses pencetakan atau pencucian dilakukan pada ruang gelap, karena cahaya dapat merusak hasil film yang rentan terbakar.

2.2 Pembentukan Bayangan Pada Kamera

Pembentukan Bayangan Pada Kamera

Lensa positif, membiaskan cahaya dan membentuk bayangan nyata, terbalik dan diperkecil. Diafragma mengatur jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera dengan mengubah ukuran aperturenya. Film merupakan media yang menangkap bayangan nyata yang dibentuk oleh lensa. Agar bayangan selalu jatuh pada film karena letak benda yang berubah, maka dapat diatur dengan menggeser jarak lensa terhadap filmnya. So = jarak benda dalam meter, Si = jarak bayangan dalam meter, F = titik fokus lensa.

Sumber :
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7189050
http://id.wikipedia.org/wiki/Kamera
http://utomoas.wordpress.com/2011/02/26/prinsip-kerja-kamera-sederhana/

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2012 in Coret - Coretan, Softskill

 

Tags: , , , , , , ,

Membuat Tampilan Menu Menggunakan QBASIC

Oke kali ini saya mau membagi sedikit ilmu hasil dari lab lagi. Dipostingan sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang cara membuat menu dengan menggunakan bahasa pemrograman JAVA, sekarang saya akan sharing cara membuat menu dengan bahasa pemrograman QBASIC beserta logika programnya. Berikut adalah tampilan menu yang akan dibuat. Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , ,

Membuat Tampilan Menu Menggunakan JAVA

Untuk membuat tampilan menu pada JAVA, maka bisa kita gunakan perintah percabangan “case”. Kali ini saya hanya ingin sekedar sharing hasil pembelajaran dari praktikum sewaktu di lab kampus. Berikut cara membuat menu dengan menggunaka bahasa pemrograman JAVA beserta logika programnya seperti tampilan dibawah ini.
Read the rest of this entry »

 

Tags: , , , , , ,

Perbandingan Dua Berita Dari Dua Sumber Koran Yang Berbeda

Berita 1

Mau Tawuran, Pelajar di Grogol Diamankan

JAKARTA (Pos Kota) – Puluhan pelajar hendak tawuran diterminal Grogol Jakbar ditangkap oleh petugas patroli Polsek Tanjung Duren. Mereka sengaja datang dari Kemayoran Jakpus untuk menunggu lawannya diterminal.

Satu persatu barang bawaan pelajar tersebut digeledah. Namun petugas hanya menemukan gasper berkepala besi. “Hampir tiap akhir pekan disini sering jadi ajang tawuran pelajar,” jelas Hendra warga Grogol, Jumat (9/12).

Ia juga tidak tahu dari mana asal sekolahan mereka. Sebab umumnya seragam para pelajar tidak ada identitasnya. “Di sini lokasinya sangat strategis sehingga sering dijadikan tempat untuk mereka janjian tawuran dengan sekolah lain,” ungkapnya.

Kini pelajar tersebut langsung dibawa ke Polsek Tanjung Duren. Petugas juga masih berjaga-jaga di sekitar terminal untuk mengantisipasi tawuran dari pelajar lain. (adin/dms)

Sumber : http://www.poskota.co.id/kriminal/2011/12/09/mau-tawuran-pelajar-di-grogol-diamankan

Berita 2

Remaja Kini Gampang Membunuh

Penulis : Heru Guntoro/Saiful Rizal/Muhamad Nasir/Norman Meoko

Minggu pertama di awal Desember 2011 ini, lima pelaku kejahatan diketahui berstatus pelajar. Usia mereka antara 14-17 tahun. Tidak tanggung-tanggung, tindakan yang mereka lakukan sudah masuk ranah pidana, yakni menghilangkan nyawa orang.

Menurut catatan SH, aksi kekerasan hingga menghilangkan nyawa orang itu dipicu persoalan sepele, mulai dari dorongan ekonomi hingga perang antargeng. Sebut saja apa yang dilakukan ES, pelajar kelas dua sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri di Jakarta Pusat. Pada Jumat (2/12), dia mencuri sepeda motor Yamaha Mio nomor polisi B-6112-PPW milik Mansyur.

Dalam aksinya ES dibantu He (14). Keduanya mencuri sepeda motor yang tengah diparkir di depan rumah korban di Jalan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Belakangan diketahui ES telah mempunyai istri dan tengah hamil lima bulan. ES melakukan itu untuk biaya ujian semester sekolah dan membiayai istrinya.

Pencurian juga dilakukan dua remaja di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kedua pelajar sekolah teknik menengah (STM) di Jakarta Utara itu yakni Dan (17) dan Fir (16), masuk geng pencurian sepeda motor.

Mereka mencuri sepeda motor Yamaha Mio nomor polisi B-6279-TYM milik Ragil Imam Santoso yang diparkir di lokasi permainan biliar di Gading Marina, Jalan Boelevard Barat Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara, awal Desember 2011. Kini kasusnya ditangani Polsek Metro Kelapa Gading.

Kasus kekerasan lainnya menimpa Rival Endryan. Pelajar kelas dua STM Budi Utomo, Jakarta Pusat ini tewas setelah dicelurit pelajar lain yang mengadangnya di jembatan layang kawasan Roxy, Jakarta Pusat, 26 November 2011.

Aksi pembunuhan itu ternyata telah dirancang dua tersangka pelaku melalui jejaring sosial Facebook. Di dunia maya itu bermunculan grup pendukung tawuran. Mereka menantang mencari musuh di halaman situs itu karena saling merasa jago. Pesan dari Facebook inilah yang membuat Rival Endryan melayang sia-sia.

Kasus paling sadis dilakukan tiga siswa SD di Ciracas, Jakarta Timur, 26 November 2011. Ketiga tersangka yakni FAR, NE, dan DS membunuh Immanuel Siagian (14), siswa SMP Negeri 257 Ciracas.

Ternyata ketiga tersangka masuk dalam geng yang memegang semboyan “Kematian dalam Damai”. Mereka membunuh karena kesal nama gengnya yang ditulis pada dinding dicoret dan diganti nama geng korban. Immanuel Siagian tewas setelah terkena sabetan celurit di dada kiri dan punggung.

Terakhir kenakalan remaja terjadi di Tambora, Jakarta Barat. Lima siswa SMP Negeri 63 di Jalan Perniagaan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Minggu (4/12), membakar salah satu ruang kelas di SMA Negeri 19. Mereka mengaku membakar ruangan karena iseng. Kelima siswa itu yakni Hi (15), Iv (15), Rd (15), Kv (15), dan Ha (14).

Niat membakar satu ruang kelas di SMA negeri yang satu kompleks dengan SMP Negeri 63 muncul saat menunggu kegiatan ekstrakurikuler bola basket pada Minggu petang sekitar pukul 15.45 WIB. Saat itu, suasana sekolah sepi. Mereka melompat masuk ruang kelas lewat jendela, menaruh sampah di atas meja, membakarnya, dan meninggalkan ruang kelas itu.

Kasus tersebut ditangani Polsek Metro Tambora (baca: Iseng Berujung Bakar Sekolah).

Ternyata tindak kejahatan yang dilakukan remaja tidak hanya terjadi di Ibu Kota Jakarta, tetapi juga telah menyebar ke daerah. Dinas Sosial Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang 2011 mencatat, jumlah anak bermasalah hukum (ABH) mencapai 500 orang lebih atau sekitar 10 persen dari total ABH nasional yang diajukan ke pengadilan.

Ketua LKSA UPTD PSMP Dharmapala Inderalaya, Ogan Ilir, Sumsel, Reinhard Nainggolan, memprediksi jumlah ABH di Sumsel maupun Indonesia secara umum meningkat seiring perkembangan teknologi dan zaman saat ini.

“Seiring perkembangan zaman, jumlah ABH akan terus meningkat karena ini merupakan permasalahan sosial. Semoga program conditional cash transfer bagi ABH ini pada tahun-tahun mendatang jumlahnya terus ditingkatkan untuk membantu mereka,” harapnya.

Data yang ada, sepanjang 2011, di enam kabupaten/kota di Sumsel, yaitu Kota Palembang, Prabumulih, Kabupaten Ogan Ilir, OKU Timur, Lahat, dan Muaraenim, terdapat 150 ABH yang diproses di pengadilan.
Secara nasional, data terakhir 2009 mencatat 6.704 ABH yang berujung di pengadilan dan 4.478 orang anak atau 70.82 persen dipidanakan.

Kepala Dinas Sosial Sumsel Ratnawati mengungkapkan, sebagian besar anak yang bermasalah dengan hukum ini memiliki latar belakang ekonomi, pendidikan, serta akses informasi yang terbatas.

Akibat pengaruh globalisasi serta tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi, mereka terjerumus ke tindak kriminal dan bermasalah dengan hukum. Umumnya mereka dari kalangan tidak mampu.

Ia mengharapkan ke depan pemerintah mengeluarkan regulasi yang memberikan pengecualian bagi anak-anak yang bermasalah dengan hukum selama bukan tindak pidana berat. Anak berusia 12 tahun yang bermasalah dengan hukum nantinya tidak akan lagi diproses secara hukum.

Namun, lebih ditekankan pada melakukan rehabilitasi terhadap anak tersebut dengan mengedepankan fungsi dan peranan keluarga untuk melakukan pembinaan terhadap mental dan perilaku menyimpang si anak.

Data di Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyebutkan, di seluruh Indonesia pada 2011 tercatat 528 kasus anak yang menjadi pelaku kejahatan dan harus berhadapan dengan hukum.

Dari jumlah tersebut, angka terbesar terdapat di Jakarta yakni 222 kasus diikuti Jawa Barat dengan 147 kasus. Umumnya pelaku tindak kekerasan dari remaja ini berusia antara 13-17 tahun serta duduk di bangku sekolah lanjutan (247 kasus) dan putus sekolah (155 kasus).

Peran Orang Tua

Kriminolog dan psikolog forensik Universitas Taruma Negara, Lia Sutisna Latif kepada SH mengatakan, perilaku anak yang dengan mudahnya melakukan tindak kriminal perlu dilihat dari pola pengasuhan orang tua anak-anak tersebut. Pendidikan dari orang tua di rumah merupakan gerbang pertama bagi anak-anak untuk membentuk perilaku yang positif.

“Apakah para orang tua sudah mampu memenuhi aspek emosi anak-anaknya? Lakukan dari hal yang paling mudah, misalkan puji si anak bila ia melakukan hal-hal yang berprestasi. Tegur dengan cara-cara yang bijak bila si anak dinilai melakukan pelanggaran,” katanya.

Perilaku anak bisa dikatakan sebagai imitasi dari hasil pembelajaran di rumah dan tempatnya bergaul dengan teman-temannya. Bila pengawasan dan pembelajaran disiplin dari orang tua lemah, jangan salahkan teman-temannya bila sang anak hanya menyerap pembelajaran dari teman-temannya, yang terkadang bebas nilai.

Menurutnya, masa remaja merupakan masa-masa kritis dalam hal penyerapan nilai. Kelak sang anak dapat menjadi baik atau tidak, tergantung nilai yang terbentuk dari lingkungan anak itu berada.

Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI), Adrianus Meliala, mengatakan anak-anak yang telah banyak melakukan tindak kriminal dianggap hal biasa. “Itulah anak-anak, para orang tua saja yang tidak bisa memahami dunia anak. Orang tua sering kali menilai perilaku anak-anak dengan menggunakan kacamata atau nilai-nila yang dianutnya,” ujarnya.

Ia menganggap, di usianya yang masih dini, anak-anak memang kerap memiliki ego, yang terkadang hanya untuk membela kelompok dan simbol-simbol yang dianut anak tersebut. Hal yang perlu diketahui, anak-anak belum terbiasa berpikir proporsional sehingga saat anak belum mampu mengambil sikap yang positif, jangan serta-merta menyalahkan anak.

“Kalau orang dewasa melakukan tindak kriminal, secara sadar dan mengetahui dampak dari perbuatannya itu, hal itu disebut tindak kriminal dan pidana. Anak-anak dalam melakukan tindakannya cenderung belum mengetahui dampak dari perbuatannya itu. Perbuatan yang dilakukan seorang anak, meskipun itu dianggap sebagai perbuatan kriminal, harus tetap dilihat sebagai kenakalan,” ucapnya.

Namun, Adrianus tetap menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak. Tanamkan nilai-nilai positif dengan cara yang bijak, agar anak dengan sukarela menyerapnya.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar kepada SH di Jakarta, Rabu (7/12) siang mengatakan, makin berkualitasnya kenakalan remaja belakangan ini disebabkan perkembangan teknologi yang tidak diiringi dengan penguatan budi pekerti.

“Kejadian seperti itu disebabkan perkembangan teknologi yang semakin pesat, namun tidak dibarengi penanaman budi pekerti yang matang” katanya.

Jawaban yang dilontarkan mantan Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) ini sebagai bentuk kegelisahannya melihat kasus kenakalan remaja yang semakin meresahkan orang tua dan masyarakat.

Perkembangan teknologi, kata Linda, seperti pedang bermata dua, satu sisi mempermudah masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya, di sisi lain, dapat berdampak buruk bagi perkembangan psikososial anak dan remaja.

“Perkembangan teknologi seharusnya juga disertai dengan pembangunan karakter dan cinta Tanah Air,” kata istri mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar ini.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka Sirait juga mengamini apa yang dikatakan Linda. Namun, ia menekankan mengenai dunia pendidikan yang semakin tidak bersahabat dengan anak-anak. “Dunia pendidikan tidak pernah mengajarkan nilai-nilai kejujuran, budi pekerti, sehingga tidak heran mereka melakukan hal seperti itu,” ujarnya.

Tidak hanya sekolah yang membuat anak-anak semakin terbeban dengan studinya. Suasana keluarga pun turut memicu pemberontakan anak. “Kedua hal ini yang memicu anak mengungkapkan rasa kekesalannya menjadi hal-hal negatif,” katanya.

Selain itu, kata Arist, mata rantai kekerasan itu harus diputus sehingga anak-anak baru tidak lagi bisa dipengaruhi untuk meneruskan kekerasan itu.

Intensitas tawuran di sekolah itu bisa terjadi mulai dari dua kali sehari hingga seminggu sekali. Arist menganggap hal itu sudah sangat memprihatinkan dan hal yang sama banyak terjadi di sekolah lain.

Pemutusan mata rantai tersebut bisa dilakukan dengan penegakan peraturan sekolah yang bisa mengantisipasi kekerasan. Ia mencontohkan hal itu dari mulai mengeluarkan siswa bermasalah hingga pemeriksaan ketat terhadap barang bawaan siswa di sekolah.

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/content/read/remaja-kini-gampang-membunuh/

Perbandingan antara kedua berita diatas adalah sebagai berikut.

Berita 1 :

Berita 1 ini ditulis sengan singkat dan padat. Isinya tidak berbelit-belit dan tertuju langsung pada inti berita. Secara EYD juga sudah baik. Penggunaan tanda baca sudah tepat. Tetapi ada 1 kata yang menurut saya rancu, yaitu penggunaan kata “gasper”. Mungkin akan lebih tepat lagi bila diganti dengan kata “gesper” atau “ikat pinggang”. Entah itu salah pengetikan huruf atau memang kata itu yang dimaksudkan. Karena ketika saya mencari kata “gasper” pada google, hasil pencariannya adalah gambar-gambar tidak jelas. Mungkin memang kita lebih mengenal kata “gesper” atau lebih jelasnya “ikat pinggang” yang lebih dikenal sehari-hari.

Berita 2 :

Berita 2 ini ditulis dengan lebih panjang lebar. Isinya lebih mendetail dan penyajian berita lebih menarik karena dilengkapi dengan gambar pendukung berita. Secara EYD sudah baik dan penggunaan tanda bacapun sudah benar. Penggunaan kosa kata lebih baik dan lebih baku tetapi tidak menghilangkan kesan luwes.

Kesimpulannya, dari kedua berita tersebut mempunyai gaya penyajian berita sendiri-sendiri. Secara EYD dan tanda baca sudah benar. Mungkin hanya berbeda di pemilihan katanya saja. TIdak bisa dikatakan mana yang lebih baik, intinya semua tergantung pada pembacanya sendiri.

 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2011 in Coret - Coretan

 

TUHAN Itu Adil Ya

Hari ini gue abis liat 2 buah objek yang bener bener bertolak belakang. Yaa sebenernya gue udah memikirkan hal ini dari kemarin kemarin, tapi gue baru sempet ngeliat hal yang bener bener menggugah hati gue buat nulis note ini.

Tadi gue ke kampus dan ketemu 2 orang yang gue kenal. Walalupun gue gak sekelas sama mereka, tapi gue tau bagaimana mereka dari penilaian orang orang yang udah pernah cerita ke gue. Kita sebut saja objek pertama bernama Mamat dan objek kedua bernama Udin. Mamat ini mempunyai fisik yang bisa dibilang sempurna dimata cewek” dan keluarganya bisa dibilang mapan. Jujur sayapun mengakui dia ini manis kalo diliat dari tampak luar. Sedangkan Udin secara fisik tidak ada yang bisa dibanggakan, muka bagai bulan dan nothing special kalo diliat pake mata, dan penilaian dari fisikly dia ini bukan berasal dai keluarga mapan karena terlihat sangat sederhana. Awalnya saya menilai Udin ini sebagai sosok yang gimana gitu, karena dia terlalu pendiem dan terkesan kaku sama orang. Tapi setelah beberapa kali pertemuan di beberapa bulan ini, saya tau kalo penilaian saya itu salah. Malah ada satu hal yang membuat penilaian saya berubah drastis ketika saya mengetahui 1 hal menarik tentang orang Udin ini, ternyata dia ini salah satu orang yang berhasil menyelesaikan PInya tepat waktu  dengan bimbingan dari dosen yang sudah terkenal susah untuk ditemui ! Yaa, sudah banyak senior bilang kalo dapet DP sang “dosen ini” pasti susah buat lulus pi tepat waktu, alias lulus di semester 6, karena dosen ini bener bener meminta isi PI dengan syarat yang terlalu perfect dan beliaupun sulit ditemua karena terlalu sibuk ! Widihh .. langsung gue merasa kalau Udin ini orang yang bener bener genius ! 5 jempol deh buat Udin ini. Sedangkan Mamat yang mempunyai fisik sempurna, ternyata tidak seimbang dengan kelakuannya. Mamat ini lebih suka berfoya foya dengan teman temannya, ngumpul bareng serta menghabiskan waktunya dengan sia sia dengan hal yang gak penting. Dan yang gue dengarpun, dia ini tipe orang pemalas dan lebih suka bergosip dengan orang orang. Ampundj, langsung kebanting banget penilaian gue terhadap orang ini. Dari nilai 9 jadi nilai 5, dan itupun penilaian terpaksa karena sikap dia ke gue selama ini baik baik aja. Kalian mungkin bisa menilai kalau gue ini menilai orang terlalu gimana gitu, penilaian kejam dengan kata kata pedas. Tapi ini lah gue, belajar menilai real dengan apa yang gue liat.
Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on November 25, 2011 in Coret - Coretan

 

Tags: , , , ,

Rangkaian 741 Light / Dark Sensor

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sangat membutuhkan cahaya untuk melakukan setiap kegiatan. Apabila tidak cahaya, otomatis kita sulit untuk melakukan segala aktivitas. Alat ini merupakan konsep dasar dari rangkaian alat penerangan otomatis pada saat mati listrik. 741 Light / Dark Sensor ini mempunyai output berupa cahaya yang keluar dari lampu 2 lampu LED yang dipengaruhi oleh LDR (Light Dependent Resistance). Jadi perubahan kondisi terang dan gelap mempengaruhi output alat ini.

Daftar Komponen

Tabel Daftar Komponen

Analisa Rangkaian

Analisa rangkaian dijabarkan dalam 2 bentuk, yaitu :
1. Analisa rangkaian secara blok diagram
2. Analisa rangkaian secara detail

Rangkaian 741 Light Dark Sensor

1. Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram

Blog Diagram

Input (Tegangan dan LDR)
Inputan pada rangkaian 741 Light / Dark Sensor ini membutuhkan tegangan masukkan (Vcc) sebesar 12 volt. Tegangan bisa berasal dari power supply, baterai ataupun adaptor dengan batas tegangan yang sesuai dengan kebutuhan. Bila tegangan yang diberikan lebih kecil dari 12 volt, kemungkinan alat ini tidak akan bekerja, karena tegangan tidak dapat mengangkat beban tegangan yang dibutuhkan oleh alat ini.
Light Dependent Resistance (LDR) atau biasa disebut dengan sensor cahaya ini merupakan komponen penting dalam alat 741 Light / Dark Sensor ini. Karena pengaruh LDR terhadap cahaya akan menentukan output dari alat ini. LDR akan berubah – ubah resistansinya sesuai dengan kapasitas cahaya yang diberikan oleh sekitarnya. Jadi pada saat kondisi terang dan gelap, alat ini akan menghasilkan output yang berbeda.

Proses (IC 741 / Penguat)
Pada rangakaian alat 741 Light Dark Sensor ini kita menggunakan IC / penguat dengan jenis Op-Amp 741. Op-Amp 741 ini berguna untuk memperkuat sinyal masukan AC (arus bolak – balik) ataupun DC (arus searah). Op-Amp ini akan menghasilkan output yang berasal dari perbandingan dari pembagian tegangan yang terjadi pada R2 (470Ω), R3 (678Ω), dan P1 (10KΩ). Op-Amp ini akan menghasilkan output tegangan pada pin ke-6. Pin ke-6 ini terhubung dengan R4 (10KΩ), dan kemudian outputnya yang berupa tegangan akan membias T1 (transistor ECG123 NTE128, atau dapat digantikan dengan transistor jenis lain dengan tipe yang sama atau NPN).
Rangkaian ini menggunakan saklar elektrik atau relay 12 volt. Relay merupakan saklar elektrik yang terdiri dari suatu lilitan dan switch. Bila lilitan tersebut dialiri arus listrik, maka switch pun akan berubah posisi. Pada alat 741 Light / Dark Sensor ini, output yang dihasilkan juga diatur oleh relay. Jadi pada saat terang, switch CO akan bergerak dan terhubung pada kaki NC. Dan pada saat gelap, kaki switch CO akan bergerak dan terhubung pada kaki NO.

Output (LED)
Output atau keluaran yang dihasilkan oleh alat 741 Light / Dark Sensor ini berupa cahaya yang dikeluarkan oleh LED. Rangkaian ini menggunakan dua buah LED, merah dan hijau. Pada saat terang, maka L1 (LED 1) yang akan menyala. Dan pada saat gelap, maka L2 (LED 2) yang akan menyala. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan tegangan yag dipengaruhi resistansi LDR yang terkena cahaya atau tidak terkena cahaya.

2. Analisa Rangkaian Secara Detail
Rangkaian 741 Light Dark Sensor ini mempunyai komponen utama yaitu LDR (Light Dependent Resistance) dan relay. Pada saat kita memberikan tegangan input 12 volt (Vcc), maka komponen alat ini akan mulai bekerja sebagai alat sensor cahaya. Pada saat terkena cahaya (kondisi terang) atau tidak terkena cahaya (kondisi gelap), LDR akan mengatur resistansinya sesuai dengan kapasitas cahaya yang terkena pada permukaan kepala LDR. Kemudian LDR mengelurkan input tegangan dan kemudian akan terjadi pembagian tegangan pada R1 (10KΩ), R2 (470Ω) dan R3 (678Ω). Dan P1 atau potensiometer (10KΩ) yang dapat diatur resistansinya berguna untuk mengatur kesensitivan LDR terhadap cahaya.
Kemudian tegangan dari R1, R2, R3, dan P1 masuk ke Op-Amp 741 melalui pin 2 dan 3. Pada pin 2 akan terjadi pembalikan nilai tegangan atau inverting. Pada pin 7 berguna sebagai tegangan catu positif yang digunakan untuk mengaktifkan Op-Amp, dan pin 4 berguna sebagai tegangan catu negatif yang digunakan untuk mengaktifkan Op-Amp. Kemudian output Op-Amp tersebut keluar dari pin 6 yang terhubung pada R4 (10KΩ). Output ini kemudian menuju ke kaki basis transistor dan kemudian terjadi saturasi. Setelah terjadi saturasi, maka tegangan akan terus mengalir ke lilitan relay dan mengaktifkan relay.
Setelah relay aktif, kumparan yang didalam relay akan mengatur perpindahan kaki CO (Change Over) sesuai dengan kondisi LDR. Pada saat LDR terkena cahaya (kondisi terang), lilitan akan mengatur kaki CO relay menjadi terhubung pada kaki NC. Ini berarti tegangan mengalir dari kaki CO ke NC dan menuju ke LED1, sehingga LED1 dapat menyala. Dan pada saat LDR tidak terkena cahaya (kondisi gelap), lilitan akan mengatur kaki CO relay menjadi terhubung pada kaki NO. Ini berarti tegangan mengalir dari kaki CO ke NO dan menuju ke LED2, sehingga LED2 dapat menyala.
Relay diberikan dioda dengan tujuan untuk mencegah terjadinya arus balik pada rangkaian. Arus balik listrik ini dapat berasal dari induksi medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan relay. Induksi listrik ini biasanya lebih tinggi tegangannya dibandingkan dengan tegangan sumber. Untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat terjadinya tegangan induksi ini maka pada rangkaian relay dipasangkan rangkaian dioda. Dan pada kedua LED diberikan resistor 1KΩ bertujuan agar tidak terjadi korsleting atau terjadi sort pada LED. Resistor 1KΩ ini digunakan sebagai buffer.

Cara Pengoperasian Alat
Kita memerlukan tegangan inputan (Vcc) untuk dapat menjalankan rangkaian ini. Tegangan yang digunakan dapat berasal dari catu daya, adaptor, maupun batu baterai. Apabila kita menggunakan catu daya DC maka voltage (tegangan) yang dipakai sebesar 12 V, atau kita dapat mengambil tegangan ini baik melalui adaptor ataupun batu batery yang mempunyai voltage 12 V.
Keuntungan kita menggunakan catu daya dari pada adaptor adalah kita tidak pelu takut atau khawatir apabila arus dari tegangan habis atau tidak ada, yang dikarenakan lost current / kehilangan arus. Tetapi penggunaan daripada catu daya dari adaptor perlu diperhatikan lagi, karena bila voltage terlalu besar ini bisa merusak komponen-komponen.
Pada saat rangkaian diberi tegangan, maka LED (L1) langsung menyala karena kondisi kepala LDR terkena cahaya (terang). Dan pada saat kita menutup kepala LDR (tidak terkena cahaya atau gelap), maka LED (L2) langsung menyala.
Dalam rangkaian ini, saklar yang kami gunakan adalah relay (saklar elektrik). Karena relay dapat melakukan switch pada kaki NO dan NC. Jadi perubahan LED yang menyala terjadi karena adanya switch yang dilakukan relay yang dipengaruhi oleh LDR.
Untuk mengatur kesensitivan LDR terhadap cahaya, kita gunakan potensiometer. Kita dapat mengatur potensiometer dengan memutar poros yang ada sampai menghasilkan output yang tepat.
Untuk memastikan rangkaian yang kita buat aman kita dapat menyimpannya dalam sebuah box akrilik yang sudah dibuat dengan beberapa lubang untuk meletakkan jack banana tegangan input (Vcc), ground, LDR, dan potensiometer agak mudah digunakan dalam pengoperasian alat ini.

 
3 Comments

Posted by on November 12, 2011 in Coret - Coretan, Softskill

 

Tags: , , , , , , ,

Rangkaian Alarm Lemari Es

Dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam rumah tangga, elektronikapun berperan contohnya pada lemari es. Alarm Lemari Es adalah suatu alat yang dapat membantu memperingatkan seseorang yang telah membuka pintu lemari es terlalu lama dan sudah seharusnya pintu itu ditutup kembali setelah adanya nada peringatan. Alarm ini didasarkan pada sebuah resistor peka cahaya (LDR). Apabila LDR terkena cahaya kemudian rangkaian diaktifkan dan nada peringatan akan berbunyi sampai LDR tidak terkena cahaya kembali.

Gambar Rangkaian Alarm Lemari Es

Rangkaian ini bisa juga dipergunakan untuk memonitor pintu-pintu yang lain, tetapi oleh karena adanya cahaya sekeliling tidak mungkin menggunakan LDR. Ini dapat diganti dengan sakelar mikro, sehingga alarm akan berbunyi jika sakelar tertutup.

Analisa Rangkaian Secara Diagram Blok
Untuk menganalisa rangkaian secara blok diagram, kita membagi proses dalam 4 blok, yaitu : Blok Aktivator, Blok Input, Blok Proses, dan Blok Output.

Diagram Blok Analisa Rangkaian

1. Blok Aktivator
Untuk mengaktifkan rangkaian, kita membutuhkan aktivator berupa sumber tegangan dari power suplay atau kita juga bisa menggunakan adaptor dengan besar tegangan 9 volt. Dengan adanya tegangan ini, maka komponen – komponen yang kita gunakan pada rangkaian mulai beraksi.

2. Blok Input
Input yang diberikan pada rangkaian ini bersumber dari LDR (Light Dependent Resistor) atau saklar. Pada saat tidak ada cahaya, LDR tidak dapat mengalirkan tegangan dari Vcc, maka pada keadaan ini kita memerlukan saklar sebagai switchnya. Sedangkan pada saat terang, cahaya masuk melalui permukaan LDR. Maka LDR bisa beraksi menghasilkan tegangan.
Tegangan yang masuk melalui saklar atau LDR tadi, kemudian diteruskan melalui ke R3 (Resistor 1M), R1 (Resistor 1K) dan P1 (Potensiometer 10K). Disini antara R1 dan P1 dengan R3 terjadi pembagian arus. Pembagian arus yang dikontrol oleh P1 ini juga mempengaruhi kesensitivan LDR terhadap cahaya.
Jadi input yang diberikan pada rangkaian ini berupa tegangan dan cahaya.

3. Blok Proses
Pada R3 bersama dengan C4 (Kapasitor 10 µF / 16 V) kemudian menghasilkan konstanta waktu reaksi saklar atau LDR terhadap buzzer. Besar konstanta waktu ini adalah 7-10 detik. Untuk mempercepat reaksi buzzer mengeluarkan output, kita bisa memperkecil nilai resistansi R3 menjadi 220K.
Selanjutnya, arus dan tegangan yang telah dialirkan dari R3 dan C4 diteruskan ke kaki – kaki IC 4093 yang bertipe NAND. Di IC ini, tegangan yang masuk diibaratkan sebagai logika 0 atau 1. Tegangan yang masuk dari Vcc diberi logika 1, sedangkan tegangan yang masuk dari ground diberi logika 0. Pada setiap kaki output diberi inverter sehingga nilai outputnya dibalik.
Denyut buzzer berasal dari output N1 (pin 4) yang terhubung dengan R2 (Resistor 1M) kemudian mengalami osilasi. Osilasi menyebabkan output amplitudonya berubah – ubah secara periodik dengan waktu. Karena perubahan amplitudo ini, terjadi output yang berdenyut pada buzzer.

4. Blok Output
Output yang dihasilkan IC tadi (pin 10 dan pin 11) menghasilkan logika 1 (tegangan tinggi) dan 0 (tegangan rendah) yang terhubung pada kedua kaki buzzer. Karena adanya perbadingan tegangan tinggi dan tegangan rendah dari output kaki IC ini, maka tegangan bisa mengalir pada kedua kaki buzzer dan kemudian memicu aktif buzzer sehingga bisa menghasilkan output berupa suara.

Analisa Rangkaian Secara Detail
Untuk mengaktifkan alat Alarm Lemari Es ini, rangkaian diberi tegangan Vcc sebesar 9v. Kemudian Vcc mengalir kesetiap komponen yang terhubung dengannya dan mengkatifkan komponen – komponen dalam rangkaian ini.
Tegangan masuk bisa melalui LDR ataupun saklar. Bila pada kondisi tidak ada cahaya dari sekitar alat, maka tegangan dapat dialirkan dari saklar SPST (single-pole single-throw) rocker switch yang mempunyai logika 1 yang berarti saklar menutup dan terhubung, dan logika 0 yang berarti saklar tidak menutup dan terputus. Jadi untuk mengalirkan tegangan dari Vcc, saklar di beri logika 1. Dan bila pada kondisi terang, LDR dapat berfungsi sebagai saklar cahaya otomatis. Maka cahaya dari sekitar alat jatuh pada permukaan LDR dan akan mengkonversikan energi cahaya menjadi energi listrik (tegangan).
Tegangan yang mengalir dari saklar atau LDR tadi, kemudian diteruskan ke menuju R3, R1 dan P1. Disini keadaan R1 yang diseri dengan P1 dan kemudian dipasang secara paralel dengan R3, maka terjadi pembagian arus dari titik tengahnya. Pembagian arus ini diatur P1 yang merupakan resistor variable digunakan untuk mengatur kesensitivan LDR dalam kepekaan terhadap cahaya yang diterima. Kemudian arus dan tegangan dari R3 dilanjutkan ke C4 (Kapasitor 10µ / 16v). Disini muatan listrik disimpan terlebih dahulu dan apabila kapasitor sudah terisi penuh dengan muatan, baru kapasitor mengalirkan muatan ke kaki input IC (pin 5). Konstanta waktu inilah yang menyebabkan adanya waktu tunda antara interkasi saklar atau LDR dengan buzzer. D1 (Dioda 1N4148) merupakan diode zener yang digunakan untuk membatasi tegangan yang masuk pada kapasitor.
Pada rangkaian ini, kita menggunakan IC CMOS 4093 yang bertipe NAND. Jadi nilai output diberi inverter. Setiap tegangan yang masuk ke kaki – kaki input, tegangan diubah menjadi logika 0 atau 1. Untuk tegangan yang berasal dari Vcc diberi logika 1 (tegangan tinggi) dan tegangan yang berasal dari ground diberi logila 0 (tegangan rendah). Pertama – tama, input masuk dari N1 (pin 5 dari R3 dan pin 6 dari C1 yang terhubung dengan ground). Maka output dari N1 ini adalah 1. Pada output N1 dihubungkan dengan R2 (Resistor 1M) ke C1 sehingga membentuk rangkaian osilator. Osilator ini membuat N1 mengalami osilasi, yang menyebabkan amplitudo gelombang naik turun. Kemudian output dari N1 diteruskan ke kedua input N2 menghasilkan outputnya (pin 3) berlogika 0. Kemudian dari pin 3 diteruskan ke input N3 (pin 9) dan masuk input baru (pin 8 ) dari C2 (Kapasitor 10n) yang terhubung dengan ground, dan menghasilkan logika 1. Dari output N3 ini, terjadi pembagian arus ke R4 (Resistor 10K) beserta P2 (Potensiometer 25K) dan kedua input N4 (pin 12 dan pin 13) yang terhubung ke salah satu kaki buzzer. N4 menghasilkan ouput (pin 11) yang berlogika 0. Dan output N3 yang bernilai 1 tadi juga terhubung ke kaki lain dari buzzer. Karena adanya perbandingan tinggi rendah tegangan di kedua kaki buzzer, maka buzzer bisa mengalirkan tegangan sehingga bisa mengeluarkan output berupa suara yang berdenyut karena adanya osilator tadi.
Dan dari hasil pembagian arus pada P2 beserta R4 dengan arus yang masuk ke buzzer, membuat P2 dapat digunakan untuk mengatur bunyi buzzer. Apabila resistansi pada P2 lebih besar, berarti muatan yang masuk ke bagian paralel P2 ini lebih besar, dan membuat suara buzzer lebih kecil, dan sebaliknya. Kegunaan C3 disini adalah sebagai muatan cadangan.

Cara Pengoperasian Alat
Cara pengoperasian alat Alarm Lemari Es yang kami buat. Untuk mengaktifkan alat ini, kita butuh tegangan Vcc sebesar 9 volt. Tegangan Vcc ini bisa berasal dari baterai, power suplay, atau adaptor.
Pada rangkaian Alarm Lemari Es, kita tarik jumper dari Vcc dan groundnya, dan kemudian hubungkan keduanya pada panel mount jack banana dengan warna berbeda, merah untuk Vcc dan hitam untuk ground. Disini kita gunakan tegangan catu dari power suplay. Jadi untuk memberikan tegangan catu pada rangkaian, kita hubungkan kedua jepit buaya dari power suplay ke kedua panel mount jack banana tersebut.
Percobaan pertama, kita berikan cahaya pada LDR (Light Dependent Resistor) dan atur P1 (Potensiometer 10K) untuk mengatur kesesensitifan LDR terhadap cahaya. Kemudian tunggu 7 – 10 detik.
Pada percobaan kedua, kita tutup LDR agar tidak terkena cahaya dan kita berikan logika 1 pada saklar (menekan tombol saklar menjadi posisi on), kemudian tunggu 7 – 10 detik.
Pada kedua percobaan tersebut, maka akan menghasilkan output suara yang berdenyut dari buzzer. Untuk mengatur bunyi buzzer, kita bisa memutar P2 (Potensiometer 25K) sehingga mendapatkan suara yang sesuai.
Pada pengaplikasian alarm ini pada lemari es sesungguhnya, kita menggunakan jenis saklar PTB (push to-break) switch) | NCPB (normaly-close push-button), yaitu jenis tombol saklar yang membuka sirkuit bila ditekan. Jadi apabila pintu lemari es terbuka dan keadaan pencahayaan sekitar kurang terang atau tidak ada cahaya, maka saklar PTB | NCPB akan menutup sirkuit rangkaian sehingga tegangan bisa mangalir ke rangkaian dan menghasilkan bunyi dari buzzer. Dan apabila pintu lemari es terbuka tetapi ada cahaya yang masuk ke LDR, maka yang berfungsi sebagai saklar disini adalah LDR yang merupakan tranduser, yaitu dapat merubah energi cahaya menjadi energi listrik. Tetapi, disini kita menggunakan jenis saklar SPST rocker switch agar mudah untuk pengoperasian alat alarm lemari es ini pada saat peragaan alat.

 
Leave a comment

Posted by on November 8, 2011 in Coret - Coretan, Softskill

 

Tags: , , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.